BENGKALIS — Aliansi GEMA IAIN Datuk Laksemana Bengkalis melaksanakan aksi damai pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Lapangan Kasih Sayang kampus. Aksi ini bukan lahir secara tiba-tiba, melainkan puncak dari perjuangan yang telah dimulai sejak tahun 2025.
Sejak tahun lalu, mahasiswa telah menempuh langkah persuasif dengan mengirimkan surat resmi dan membuka dialog bersama pihak pimpinan kampus. Pada saat itu, pihak kampus berjanji akan memenuhi tuntutan-tuntutan yang disampaikan mahasiswa.

Namun hingga aksi dilaksanakan, tidak satu pun dari janji-janji tersebut yang terealisasi. Hal inilah yang mendorong mahasiswa untuk menyuarakan kembali aspirasi mereka secara terbuka di lingkungan kampus.
Perjalanan menuju aksi ini pun tidak mudah. Terdapat upaya yang terkesan ingin membuyarkan konsolidasi mahasiswa, termasuk rencana pelaksanaan Forum Komunikasi Demokrasi (FCD) tahap kedua yang diusulkan Presidium Mahasiswa tepat sebelum hari aksi. Meski demikian, mahasiswa tetap teguh menyampaikan tuntutan pada waktu yang telah disepakati.
Aksi damai berlangsung tertib dan kondusif, berupa orasi serta penyampaian aspirasi secara langsung. Tidak ada keributan, hanya suara kebersamaan mahasiswa yang menuntut perubahan nyata.
Merespons aksi tersebut, Rektor IAIN Datuk Laksemana Bengkalis beserta jajarannya langsung menemui perwakilan mahasiswa di lokasi. Pertemuan berjalan terbuka dan jujur, di mana mahasiswa menyampaikan langsung keresahan yang mereka rasakan selama ini.

Setelah mendengarkan aspirasi, Rektor beserta rombongan langsung meninjau sejumlah fasilitas yang menjadi keluhan utama, antara lain kondisi kamar mandi, kebocoran ruangan kelas, serta sarana penunjang pembelajaran seperti kipas angin, meja, dan kursi yang banyak sudah tidak layak.
Koordinator aksi, Fandi Wahidi dari Fakultas Syariah, menegaskan mahasiswa memberikan waktu 20 hari ke depan bagi pihak kampus untuk merealisasikan seluruh tuntutan mereka. “Apabila setelah 20 hari tidak ada realisasi, kami menuntut Rektor untuk mundur dari jabatannya,” tegas Fandi.
Fandi juga memperingatkan, mahasiswa akan menggelar aksi yang lebih besar jika batas waktu tersebut terlewati tanpa ada perbaikan yang nyata dari pihak kampus. Aksi ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan kampus.
Di tengah aksi yang berlangsung, sorotan tajam juga diarahkan kepada Presidium Mahasiswa (PRESMA) IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Mahasiswa menilai lembaga ini justru bersikap membungkam suara rekan-rekannya yang sedang memperjuangkan hak-hak bersama.

Aminurrahman, Presidium Mahasiswa IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, disebut justru berdiam diri di saat mahasiswa menyampaikan keresahan. Mahasiswa menyebut sikap PRESMA terkesan sebagai penjilat kekuasaan, yang lebih memihak kepentingan elit kampus dibandingkan memperjuangkan aspirasi mahasiswa.
Dalam tuntutan yang disampaikan, mahasiswa menegaskan PRESMA harus kembali berpihak pada mahasiswa, bukan pada kepentingan penguasa di kampus. Mereka meminta lembaga ini tidak lagi menutup mata terhadap suara dan keresahan yang disampaikan mahasiswa.
Mahasiswa juga menuntut agar fungsi dan tanggung jawab PRESMA dijalankan sebagaimana mestinya sebagai lembaga representatif yang sejati, bukan sekadar lembaga yang hanya ada di atas kertas dan penuh dengan formalitas belaka.
“Jangan biarkan kepemimpinan hanya menjadi jabatan, bukan pengabdian. Mahasiswa bukan penonton, kami adalah suara perubahan,” demikian pesan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Mahasiswa bertekad terus memperjuangkan hak-hak mereka, karena kampus ini milik kita semua.

Mahasiswa menegaskan, sekali lagi suara mahasiswa bukan ancaman, melainkan masa depan yang lebih baik. Jika dalam 20 hari ke depan tidak ada realisasi nyata, langkah perjuangan selanjutnya dipastikan akan lebih besar dan tidak akan berhenti sampai tuntutan dipenuhi.

Sumber : Aliansi GEMA IAIN Datuk Laksamana Bengkalis
Editor : Redaksi Media 3k3 Group/Fjr